selamat datang diblog saya

Minggu, 20 Oktober 2013

teori asal mula negara


Teori Asal Mula Negara
Teori Asal Mula Negara
Teori asal mula terjadinya negara selain dapat dilihat berdasarkan pendekatan teoretis, juga dapat dilihat berdasarkan proses pertumbuhannya. Asal mula terjadinya negara dilihat berdasarkan pendekatan teoretis ada beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
Teori Ketuhanan, menurut teori ini negara terbentuk atas kehendak Tuhan.
Teori Perjanjian, teori ini berpendapat, bahwa negara terbentuk karena antara sekelompok manusia yang tadinya masing-masing hidup sendiri-sendiri, diadakan suatu perjanjian untuk mengadakan suatu organisasi yang dapat menyelenggarakan kehidupan bersama.
Teori Kekuasaan, kekuasaan adalah ciptaan mereka-mereka yang paling kuat dan berkuasa
Teori Kedaulatan, setelah asal usul negara itu jelas maka orang-orang tertentu didaulat menjadi penguasa (pemerintah). Teori kedaulatan ini meliputi:
  • Teori Kedaulatan Tuhan, menurut teori ini kekuasaan tertinggi dalam negara itu adalah berasal dari Tuhan.
  • Teori Kedaulatan Hukum, menurut teori ini bahwa hukum adalah pernyataan penilaian yang terbit dari kesadaran hukum manusia dan bahwa hukum merupakan sumber kedaulatan.
  • Teori Kedaulatan Rakyat, teori ini berpendapat bahwa rakyatlah yang berdaulat dan mewakili kekuasaannya kepada suatu badan, yaitu pemerintah.
  • Teori Kedaulatan negara, teori ini berpendapat bahwa negara merupakan sumber kedaulatan dalam negara.
Kemudian, teori asal mula terjadinya negara, juga dapat dilihat berdasarkan proses pertumbuhannya yang dibedakan menjadi dua, yaitu terjadinya negara secara primer dan teori terjadinya negara secara sekunder.
Asal mula terjadinya negara dilihat berdasarkan pendekatan teoretis ada beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
  1. Teori Ketuhanan, Menurut teori ini negara terbentuk atas kehendak Tuhan.
  2. Teori Perjanjian, Teori ini berpendapat, bahwa negara terbentuk karena antara sekelompok manusia yang tadinya masing-masing hidup sendiri-sendiri, diadakan suatu perjanjian untuk mengadakan suatu organisasi yang dapat menyelenggarakan kehidupan bersama.
  3. Teori Kekuasaan, Kekuasaan adalah ciptaan mereka-mereka yang paling kuat dan berkuasa
  4. Teori Kedaulatan, Setelah asal usul negara itu jelas maka orang-orang tertentu didaulat menjadi penguasa (pemerintah). Teori kedaulatan ini meliputi:
  • Teori Kedaulatan Tuhan, Menurut teori ini kekuasaan tertinggi dalam negara itu adalah berasal dari Tuhan.
  • Teori Kedaulatan Hukum, Menurut teori ini bahwa hukum adalah pernyataan penilaian yang terbit dari kesadaran hukum manusia dan bahwa hukum merupakan sumber kedaulatan.
  • Teori Kedaulatan Rakyat, Teori ini berpendapat bahwa rakyatlah yang berdaulat dan mewakili kekuasaannya kepada suatu badan, yaitu pemerintah.
  • Teori Kedaulatan Negara, Teori ini berpendapat bahwa negara merupakan sumber kedaulatan dalam negara. Kemudian, teori asal mula terjadinya negara, juga dapat dilihat berdasarkan proses pertumbuhannya yang dibedakan menjadi dua, yaitu terjadinya negara secara primer dan teori terjadinya negara secara sekunder.

PENGERTIAN NEGARA

Sejarah Berdirinya Bangsa Indonesia
Sejarah lahirnya bangsa Indonesia cukup panjang dan ini tidak lepas dari upaya Vereenigde Oost Indische Companie (VOC) yang dilanjutkan Pemerintahan Belanda memecah belah rakyat nusantara, melalui kebijaksanaan pemilihan penduduk. Namun reaksi rakyat nusantara malah ingin bersatu dan berkelompok atas dasar kesamaan: tempat tinggal, daerah asal dan agama. Inilah embrio semangat persatuan dalam pluralism terbentuk.
Gerakan Etika Politik di Eropa dilaksanakan juga di nusantara dengan maksud ingin membalas jasa rakyat. Denga demikian rakyat akan mudah diatur oleh Belanda. Ternyata gerakan ini disambut baik oleh kaum pergerakan dan dibantu oleh para penguasa lokal.Para pemimpin pergerakan melakukan upaya pendidikan dan mendirikan sekolah-sekolah untu kaum pribumi.Boedi Oetomo merupakan organisasi masyarakat pribumi pertama melakukan pendidikan untuk kaum pribumi.Kaum pribumi menjadi haus bacaan dan ilmu pengetahuan.Sastra Barat mulai diterjemahakan dan diterbitkan dalam bahasa Melayu dan Jawa yang akhirnya membangkitkan semangat egaliter.Dari semangat egaliter membangkitkan kesadaran berbangsa dan berpolitik, yang selanjutnya menjadi gerakan politik sehingga alhirnya bangsa Indonesia. Oleh karena itu Ben Anderson berpendapaat bahwa nation state  merupakan komunitas terbayang yang menyatu.
Pengertian Negara
Negara menurut Logemann adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dengan kekuasaannya mengatur serta menyelenggarakan suatu masyarakat. Lebih jauh menurut Max Weber negara merupakan struktur politik yang diatur oleh hukum, yang mencakup suatu komuniti manusia yang hidup dalam suatu wilayah tertentu dan menganggap wilayah yang bersangkutan sebagai milik mereka untuk tempat tinggal dan penghidupan mereka (Naning, 1983:3-4). Ada pengadaan dan pemeliharaan tata keteraturan (hukum) bagi kehidupan mereka.Ada monopoli kepemilikan dan penggunaan kekuatan fisi secara sah (legitemasi). Dengan demikian Negara merupakan alat masyrakat untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan Negara.Adanya legitemasi pada Negara, organisasi ini dapat memaksa kekuasaannya secara sah terhadap semua kolektiva dalam masyarakat. Ada tiga sifat yang merupakan kedaulatan. Pertama, sifat memaksa yaitu negara memiliki keuasaan untuk menggunakan kekerasan fisik secara sah (legal) agar dapat tertib dan aman.Kedua, sifat monopoli yaitu negara berhak dan kuasa tunggal dalam menetepkan tujuan bersama dari masyarkat/bangsa.Ketiga, sifat mencakup semua yaitu semua peraturan perundang-undangan mengenai semua orang, baik warga negara maupun bukan warga negara.
Menurut Konvensi Montevido diperlukan 3 syarat yang bersifat konstitutif. Pertama harus ada wilayah, yaitu suatu daerah yang telah dinyatakan sebagai milik bangsa tersebut, dan batas-batas wilayah ditentukan oleh perjanjian internasional. Kedua harus ada rakyat, yaitu orang yang mendiami di wilayah tersebut dan dapat terdiri dari atas berbagai golongan/kolektiva social; yang harus patuh pada hukum dan Pemerintah yang sah. Ketiga harus ada Pemerintah, yaitu suatu organisasi yang berhak mengatur dan berwewenang merumuskan serta melaksanakan peraturan perundang-undangan yang mengikat warganya.
Lebih lanjut menurut Prof DR Sri Soemantri, SH (Diknas, 2001: 50) dapat pula ditambahkan ada pengakuan kedaulatan dari negara lain. Kedaulatan merupakan unsur mutlak yang harus ada dan merupakan ciri yang membedakan antara organisasi pemerintah dengan prganisasi kemasyarakatan/social. Untuk lebih mampu menghadapi lawan, negara berhak menuntut kesetiaan para warganya. Demikian pula dapat ditambahkan adanya tujuan negara yang tersurat/tersirat melalui konstitusi.

Pengertian Umum
Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan yang berlaku bagi semua individu di wilayah tersebut, dan berdiri secara independent.
Syarat primer sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya adalah mendapat pengakuan dari negara lain.
Beberapa pengertian Negara menurut pakar kenegaraan :
  1. 1.      George Jellinek : Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu.
  2. 2.      G.W.F Hegel : Negara adalah organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal.
  3. 3.      Logeman : Negara adalah organisasi kemasyarakatan (ikatan kerja) yang mempunyai tujuan untuk mengatur dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya.

Asal usul terjadinya negara berdasarkan fakta sejarah

Pendudukan (Occupatie)
Hal ini terjadi ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemudian diduduki dan dikuasai.Misalnya, Liberia yang diduduki budak-budak Negro yang dimerdekakan tahun 1847.
Peleburan (Fusi)
Hal ini terjadi ketika negara-negara kecil yang mendiami suatu wilayah mengadakan perjanjian untuk saling melebur atau bersatu menjadi Negara yang baru. Misalnya terbentuknya Federasi Jerman tahun 1871.
Penyerahan (Cessie)
Hal ini terjadi Ketika suatu Wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan suatu perjanjian tertentu. Misalnya, Wilayah Sleeswijk pada Perang Dunia I diserahkan oleh Austria kepada Prusia,(Jerman).
Penaikan (Accesie)
Hal ini terjadi ketika suatu wilayah terbentuk akibat penaikan LumpurSungai atau dari dasar Laut (Delta). Kemudian di wilayah tersebut dihuni oleh sekelompok orang sehingga terbentuklah negara. Misalnya wilayah negara Mesir yang terbentuk dari Delta Sungai Nil.
Pengumuman (Proklamasi)
Hal ini terjadi karena suatu daerah yang pernah menjadi daerah jajahan ditinggalkan begitu saja. Sehingga penduduk daerah tersebut bisa mengumumkan kemerdekaannya. Contohnya, Indonesia yang pernah di tinggalkan Jepang karena pada saat itu jepang dibom oleh Amerika di daerah Hiroshima dan Nagasaki.

Teori tentang asal mula atau teori terbentuknya negara dapat dilihat dari dua segi, yakni teori yang bersifat spekulatif dan teori yang bersifat evolusi.

1.  Teori yang bersifat Spekulatif
Teori ini meliputi teori teokratis, teori perjanjian masyarakat, dan teori kekuatan atau kekuasaan.
a. Teori Teokrasi (ketuhanan) menurut teori ketuhanan, segala sesuatu di dunia ini adanya atas kehendak Allohu Subhanahu Wata’ala, sehingga negara pada hakekatnya ada atas kehendak Allah. Penganut teori ini adalah Fiedrich Julius Stah, yang menyatakan bahwa negara tumbuh secara berangsur-angsur melalui proses bertahap mulai dari keluarga menjadi bangsa dan negara.
b. Teori perjanjian masyarakat. Dalam teori ini tampil tiga tokoh yang paling terkenal, yaitu Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rousseau. Menurut teori ini negara itu timbul karena perjanjian yang dibuat antara orang-orang yang tadinya hidup bebas merdeka, terlepas satu sama lain tanpa ikatan kenegaraan. Perjanjian ini diadakan agar kepentingan bersama dapat terpelihara dan terjamin, supaya ”orang yang satu tidak merupakan binatang buas bagi orang lain” (homo homini lupus, menurut Hobbes).
c. Teori kekuasaan/ kekuatan. Menurut teori kekuasaan/kekuatan, terbentuknya negara didasarkan atas kekuasaan/kekuatan, misalnya melaluipendudukan dan penaklukan. Ditinjau dari teori kekuatan, munculnya negara yang pertama kali, atau bermula dari adanya beberapa kelompok dalam suatu suku yang masing-masing dipimpin oleh kepala suku (datuk). Kemudian berbagai kelompok tersebut hidup dalam suatu persaingan untuk memperebutkan lahan/wilayah, sumber tempat mereka mendapatkan makanan. Akibat lebih jauh mereka kemudian berusaha untuk bisa mengalahkan kelompok saingannya.

2. Teori yang Bersifat Evolusi
Teori yang evolusi atau teori historis ini merupakan teori yang menyatakan bahwa lembaga – lembaga sosial tidak dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan manusia. Sebagai lembaga sosial yang diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan – kebutuhan manusia, maka lembaga – lembaga itu tidak luput dari pengaruh tempat, waktu, dan tuntutan – tuntutan zaman. Menurut teori yang bersifat evolusi ini terjadinya negara adalah secara historis-sosio (dari keluarga menjadi negara). Termasuk dalam teori ini yang bersifat evolusi ini antara lain teori hukum alam. Berdasarkan teori hukum alam ini, negara terjadi secara alamiah.
Unsur – unsur terbentuknya negara
1. Rakyat adalah orang yang tinggal dalam suatu negara atau menjadi penghuni suatu wilayah tertentu. Rakyat diartikan sebagai kumpulan manusia yang dipersatukan oleh rasa persamaan dan persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah negara.
Pengertian rakyat dengan penduduk dan juga warga negara berbeda, satu dan yang lainnya merupakan konsep yang serupa tapi tak sama.
Rakyat sebuah negara dibedakan atas dua, yakni:
a. penduduk dan bukan penduduk. Penduduk adalah orang yang bertempat tinggal atau menetap dalam suatu negara, sedang yang bukan penduduk adalah orang yang berada di suatu wilayah suatu negara dan tidak bertujuan tinggal atau menetap di wilayah negara tersebut.
b. warga negara dan bukan warga negara.Warga negara ialah orang yang secara hukum merupakan anggota dari suatu negara, sedangkan bukan warga negara disebut orang asing atau warga negara asing.
2. Wilayah adalah tempat manusia dan juga negara dalam melangsungkan pemerintahannya. Wilayah merupakan ruangan yang terdiri atas tanah, dratan, perairan, ruang uadara yang ada diatasnya serta wilayah teritorial.
3. Pemerintah yang berdaulat
Pemerintah memiliki kedaulatan yang bersifat:
a. Asli, Kedaulatan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi.
b. Permanen, kedaulatan itu akan ada selama negara masuh berdiri. Kedaulatan dalam negara bersifat abadi, karena kedaulatan itu akan tetap ada walaupun pemerintahannya sudah berganti.
c. Tidak terbagi-bagi, kedaulatan merupakan satu-satunya kekuasaan yang tertinggi dalam negaranya.
d. Tidak terbatas, kedaulatan itu tidak dibatasi oleh siapapun.
4. Pengakuan dari negara lain
Pengakuan dari negara lain dapat dibedakan secara de facto dan de jure
a. Pengakuan secara de facto adalah pengakuan tentang kenyatan adanya suatu negara yang dapat mengadakan hubungan dengan negara lain yang mengakuinya.
b. Pengakuan secara de jure adalah pengakuan secara resmi berdasarkan hukum oleh Negara lain dengan segala akibatnya.
WARGA NEGARA

Rakyat didefinisikan sebagai segenap penduduk suatu negara (KBBI, 1988: 722).Sedangkan bukan penduduk adalah orang yang tinggal sementara di kawasan tersebut.Selanjutnya penduduk dibedakan antara warga negara dan bukan warga negara/warga negara asing.
Warga Negara (citizen, citoyen, staatsburger) adalah peserta dari otoritas Negara.Istilah ini bermula dari keiginan manusia mempersatukan diri dalam kebersamaan, semua daya kekuatan ditempatkan dibawah kehendak umum sebagai satu kekuatan kelompok. Jadi bermula dari pribadi umum membentuk persatuan semua orang yang disebut “kota” (city) dan sekarang disebut “republic” atau “negara hukum” (body politic), yakni kumpulan manusia dalam suatu negara. Unit in oleh warganya disebut negara (state), apabila bersifat pasif, sedangkan bersifat aktif diebut penguasa.
Untuk menentukan kewarganegaraan dikenal ada 2 pendekatan, ditinjau dari segi kelahiran dan segi perkawinan.
  1. Dari kelahiran ada dua pendekatan asa kewarganegaraan (Soetoprawiro, 1996: 10):
    1. Ius Sanguinis (law of blood) Dalam asas ini kriteria kewarganegaraan ditentuan berdasarkan garis orang tua si anak.
    2. Ius Soli (law of soil) Dalam asas ini seseorang diakui kewarganegaraannya berdasarkan tempat dilahirkan, neski orangtuanya adalah warga negara asing.
Kedua asas ini dapat digunakan bersama dengan mengutamaan salah satu, namun dengan tidak menanggalkan kewarganegaraan yang lainnya. Sebagai akibatnya terjadi dwi kewarganegaraan (bipatride) dan sebaliknya dapat saja seseorang tidak memiliki kewarganegaraan (apatride). Penyelesaiannya biasanya digunakan hak opsi yaitu hak memilih kewarganegaraan dan hak repudansi (hak menolak kewarganegaraan). Cara lain untuk memperoleh kewarganegaraan melalui cara naturalisasi yaitu melalui proses hukum dengan syarat-syarat tertentu.
  1. Dari segi perkawinan dengan dasar:
    1. Kesatuan hukum, dalam kaitan ini isteri mengikuti kewarganegaraan suami, apabila terjadi perkawinan antar bangsa (campuran)
    2. Persamaan derajat, dalam kaitan ini kewarganegaraan isteri tidak hilang setelah perkawinan campuran.
Seseorang dikatakan warga negara apabila :
• Yang menjadi warga negara adalah orang – orang bangsa Indonesia asli dan orang – orang bangsa lain yang disahkan dengan Undang – Undang sebagai warga Negara.
• Penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia
• Hal – hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang – undang (pasal 26 UUD 1945)
• Undang – undang yang diatur tentang warga negara adalah UU No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia. UU ini sebagai pengganti atas UU No. 62 tahun 1958.

Minggu, 02 Juni 2013

makalah keterampilan menyimak



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif,  produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak yang bertujuan untuk menangkap dan memahami pesan ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.
Dengan demikian menyimak sangat penting dalam proses belajar mengajar. Maka dari itu, akan dibahas pengertian menyimak, tahap-tahap kegiatan menyimak, aneka ragam menyimak, fungsi, tujuan,  hakikat menyimak, proses menyimak, kemampuan menyimak para siswa SD, dan juga hal-hal yang perlu disimak.














BAB II
ISI

1.     Batasan dan Pengertian Menyimak

Dalam bahasa karo terdapat suatu pemeo yang berbunyi “Tuhu nge ibegina, tapi labo idengkehkenna” yang artinya “memang di dengarnya, tapi tidak di simaknya”. Memang tidak dapat di sangkal bahwa di dunia ini terdapat banyak telinga yang kegiatannya hanya sampai pada tingkat mendengar saja, belum sampai pada taraf menyimak.
Don Brown, dalam disertasinya yang berjudul “Auding as the Binary Language Ability” pada stanford university, 1954, menyatakan bahwa istilah hearing dan listening keduanya terbatas dalam makna, dan bahwa auding yang diturunkan dari kata kerja neologis to aud, lebih tepat melukiskan, dan memberikan keterampilan yang ada sangkut-pautnya dengan para guru.
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah di sampaikan oleh pembicara.

2.     Tahap-tahap menyimak

Ruth G. Stricland menyimpulkan ada sembilan tahapan menyimak, mulai dari yang tidak ketentuan  sampai pada yang amat bersungguh-sungguh, yaitu sebagai berikut:
a.      Menyimak berkala, yang terjadi pada saat anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
b.      Menyimak dengan perhatian dangkal, karena sering mendapat gangguan dengan adanya selingan-selingan perhatian kepada hal-hal di luar pembicaraan.
c.       Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekspresikan isi hati anak.
d.      Menyimak serapan karena anak keasikan menyerap hal-hal yang kurang penting, jadi merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya.
e.      Menyimak sekali-sekali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang di simak, karena perhatiannya terganggu oleh keasikan lain dan hanya mendengarkan hal-hal yang menarik saja.
f.        Menyimak asosiatif; hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan, yang mengakibatkan penyimak benar-benar tidak memberi reaksi terhadap pesan yang di sampaikan pembicara.
g.      Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan memberi komentar maupun pertanyaan.
h.      Menyimak secara seksama, mengikuti jalan pikiran pembicara dengan sungguh-sungguh.
i.        Menyimak secara aktif untuk mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan pembicara.

Ada pakar lain yang mengemukakan adanya tujuh tahapan menyimak yaitu:
a.      Isolasi
b.      Identifikasi
c.       Integrasi
d.      Infeksi
e.      Interpretasi
f.        Interpolasi
g.      Intropeksi


3.     Ragam Menyimak
a.      Menyimak Ekstensif
Menyimak  ekstensif adalah sejenis kegiatan menyinyak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan bebas terhadap suatu tujuan, tidak perlu di bawa bimbimbingan langsung dari seorang guru.
Secara psikologis, menyimak ekstensif terhadap bahasa “nyata – sebagai lawan dari bahasa “tulis” – akan sangat memuaskan selama kegiatan tersebut dapat memperagakan bahwa upaya-upaya para siswa di dalam kelas akan dapat memberi keuntungan dalam kehidupan lingkungan bahasa yang hidup. Salah satu dari kegagalan pengajaran bahasa yang paling besar dan paling umum adalah bahwa apa-apa yang diajarkan kepada para siswa secara keseluruhan tidak mencukupi untuk menggarap serta menangani arus yang berhubungan dengan bahan simakan yang datang kepadanya dari segala arah pada saat ia berada ditempat asing.
Menyimak ekstensif dapat pula memberi kesempatan bagi siswa untuk mendengar dan menyimak butir-butir kosa kata dan struktur-struktur yang masih asing baginya yang terdapat dalam arus ujaran yang berada didalam jangkauan dan kapasitasnya.
Bercerita, terutama bagi usia muda merupakan suatu contoh bagi bahan menyimak ekstensif. Guru merupakan sumber modal dalam bercerita. Karena salah satu tujuan dari menyimak ekstensif adalah menyajikan kembali bahan lama dengan cara yang baru. Pada umumnya, sumber yang baik bagi berbagai aspek menyimak ekstensif adalah rekaman-rekaman yang dibuat oleh diri sendiri karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang hendak dicapai.
Menyimak ekstensif dapat di bagi menjadi empat, yaitu:
a)      Menyimak Sosial
Menyimak sosial biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik, sehingga orang yang hadir saling mendengarkan dan memberi respon  yang wajar terhadap apa yang dikatakan rekannya.
Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dua hal, yaitu:
v  Menyimak secara sopan santun dan penuh perhatian terhadap percakapan dalam situasi-situasi sosial dalm satu maksud.
v  Menyimak serta memahami peranan pembicarrra dan penyimak dalm proses komunikasi tersebut.

       Orang-orang yang dapat menaati kedua hal diatas dapat dikatan sebagai anggota masyarakat yang baik.
b)      Menyimak Sekunder
Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan. Seperti contoh berikut,menyimak musik yang mengiringi ritme-ritme, tarian-tarian rakyat disekolah dan pada acara-acara radio yang terdengar sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman dirumah.

c)      Menyimak Estetik
Menyimak estetik adalah kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk kedalam menyimak ekstensif, mancakup: menyimak musik, puisi, pembacaan bersama atau drama radio dan rekaman-rekaman serta menikmati cerita teka-teki dan lakon-lakon yang dibicarakan atau diceritakan oleh guru, siswa, dan ataupun aktor.

d)      Menyimak Pasif
 Menyimak pasif adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar dan biasanya menandai kita pada saat belajar kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai serta menguasai suatu bahasa.
Untuk memberikan kesempatan kepada otak kita untuk melakukan pekerjaan seefisien mungkin, kita perlu menggunakan teknik-teknik yang bermanfaat, antara lain:
ΓΌ  Berilah otak dan telinga kesempatan menyimak banyak-banyak
ΓΌ  Tenang dan santai, maksudnya tidak boleh gelisah dalam belajar seakan-akan memutuskan upaya otak untuk melakukan tugasnya.
ΓΌ  Jangan memasang rintangan bagi bunyi.
ΓΌ  Berikanlah waktu yang cukup bagi telinga dan otak untuk mendengarkan sesuatu.
ΓΌ  Berikan kesempatan bagi otak dan telinga bekerja, sementara kita mengerjakan sesuatu yang lain.

b.      Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada butir-butir bahwa sebagai bagian dari program pengajaran bahasa, pemahaman serta pengertian umum. Menyimak intensif dapat dibagi enam  yaitu:
a)      Menyimak Kritis
              Menyimak kritis adalah kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan hal-hal yang baik dan benar dari ujaran pembicara, dengan alasan yang kuat dan dapat diterima oleh akal sehat. Pada umumnya menyimak kritis lebih cendrung meneliti letak kekurangan, kekeliruan, ketidak telitian yang terdapat dalam ujaran atau pembicaraaan seseorang.
              Secara agak terperinci kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak kritis adalah:
ΓΌ  Memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ujaran yang tepat, kata, pemakaian kata dan unsur-unsur kalimatnya.
ΓΌ  Menetukan alasan “mengapa”.
ΓΌ  Memahami aneka makna petunjuk konteks.
ΓΌ  Membedakan fakta dari fantasi.
ΓΌ  Membuat keputusan-keputusan.
ΓΌ  Menarik kesimpulan-kesimpulan.
ΓΌ  Menemukan jawaban bagi masalah tertentu.
ΓΌ  Menentukan mana informasi baru atau informasi tambahan bagi suatu topik.
ΓΌ  Menafsirkan, menginterpretasikan ungkapan, idiom, dan bahasa yang belum umum untuk dipakai.
ΓΌ  Bertindak objektif dan evaluatif untuk menentukan keaslian, kebenaran, kecerobohan, kekurangtelitian serta kekeliruan.

              Dalam kegiatan menyimak kritis ini, ada empat konsep penting yang harus kita miliki, yaitu:
ΓΌ  Penyimak harus yakin bahwa pembicaraan telah mendukung serta mendokumentasikan masalah-masalah yang mereka kemukakan.
ΓΌ  Penyimak mengharapkan agar pembicara mengemukakan masalah-masalah khusus.
ΓΌ  Penyimak mengharap agar pembicara mendemonstrasikan keyakinannya pada suatu topik tertentu.
ΓΌ  Penyimak harus percaya dan menuntut dengan tegas agar pembicara bergerak dari hal-hal umum ke khusus.

b)      Menyimak Konsentratif
              Menyimak konsentratif sering disebut a study-type listening atau menyimak yang merupakan kegiatan sejenis telaah. Kegiatan yang tercangkup dalam menyimak konsentratif adalah:
ΓΌ  Mengikuti petunjuk.
ΓΌ  Mencari hubungan.
ΓΌ  Mencari informasi.
ΓΌ  Memperoleh pemahaman.
ΓΌ  Menghayati ide-ide.
ΓΌ  Memahami urutan ide-ide.
ΓΌ  Mencatat fakta-fakta.

c)      Menyimak Kreatif
              Menyimak kreatif adalah kegiatan menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekontruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan kinestetik terhadap apa-apa yang disimaknya. Kegiatan dalam menyimak kreatif:
ΓΌ  Mengasosiasikan makna-makna dengan pengalaman menyimak
ΓΌ  Merekontruksi imaji-imaji visual sementara menyimak
ΓΌ  Mengadaptasikan imaji dengan pikiran imajinatif dalam karya
ΓΌ  Memecahkan masalah, memeriksa, dan mengujinya

d)      Menyimak Eksplorasif
              Menyimak eksploratif adalah kegiatann menyimak intensif dengan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah. Tujuan dari kegiatan dalam menyimak eksplorasif adalah sebagai berikut:
ΓΌ  Menemukan hal-hal baru
ΓΌ  Menemukan informasi tambahan
ΓΌ  Menemukan isyu menarik

e)                 Menyimak Interogatif
              Menyimak interogatif adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, sebab sang penyimak akan mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin yang mencakup apa, siapa, mengapa, di mana, ke mana, untuk apa, benarkah, dan sebagainya.

f)       Menyimak Selektif
              Menyimak pasif perlu dilengkapi dengan menyimak selektif, alasan nya:
·         Kita jarang mendapat kesempatan untuk berpartisipasi secara sempurna dalam suatu kebudayaan asing, itu mengganggu kapasitas kita untuk menyerap.
·         Kebiasaan-kebiasaan kita cenderung membuat kita menginterprestasikan kembali rangsangan-rangsangan akustik yang disampaikan oleh telinga ke otak dan karena itu kita memperoleh suatu impresi yang dinyatakan dengan tidak sebenarnya terhadap bahasa asing.
              Beberapa bahasa menuntut adaptasi atau penyesuaian terhadap urutan prosedur yang disarankan sebagai berikut:
ΓΌ  Nada suara
              Nada suara, apakah turun atau naik ataupun mendatar merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan mengenai suatu bahasa baru. Kalau seseorang pertama sekali mendengarkan suatu bahasa asing , maka dia biasanya memperoleh kesan bahwa benar-benar tiada limit variasi-variasi puncak atau nada suara pada aneka ragam kata, frase, dan kalimat. Tetapi, secara berangsur-angsur semakin banyak seseorang menyimak suatu bahasa, maka semakin tinggi pula kesadarannya bahwa sebenarnya ada sejumlah batas yang amat tegas tempat orang berbuat dengan suaranya.

ΓΌ  Bunyi-bunyi asing
              Segi berikutnya yang harus disimak secara selektif adalah bunyi-bunyi bahasa asing dalam suatu bahasa tertentu. Setiap orang yang menyimak secara saksama  pada bunyi-bunyi suatu bahasa, hampir tanpa kecuali, dia mendapat bahwa dia menggerakkan lidah, bibir, dan rahang dalam meniru bunyi yang bersangkutan. Semua itu terjadi tanpa upaya suatu upaya sadar untuk menggerakkan aneka bagian alat bahasa.

ΓΌ  Bunyi-bunyi yang bersamaan
              Kita sering mendapati bunyi-bunyi yang bersamaan misalnya kita menemui dalam suatu bahasa suatu bunyi perantara antara p dan b. Bahasa-bahasa tidak lebih dari sistem-sistem lambang yang amat rumit, amat kompleks, dan haruslah merupakan sistem-sistem atau kita tidak akan pernah dapat mengingatnya.
             
ΓΌ  Kata-kata dan frase-frase
              Setiap orang yang menyimak secara saksama pada suatu bahasa asing akan segera melihat, menemukan kombinasi-kombinasi bunyi yang terjadi berulang-ulang. Bila seseorang mendengar beulang kali kombinasi-kombinasi yang terdiri atas lima atau enam suku kata maka agaknya ini merupakan frase. Salah satu dari frase-frase yang paling penting dalam menyimak frase-frase dan kalimat-kalimat secara selektif, ataupun menyimak frase-frase dan kalimat-kalimat secara selektif adalah memahami dari konteks apa makna yang dikandungnya. Menyimak secara selektif terhadap kata-kata biasanya mulai dengan memperhatikan setiap kombinasi bunyi yang muncul berulang-ulang, yang seolah-olah “lebih menonjol” dalam arus ujaran.

ΓΌ  Bentuk-bentuk ketatabahasaaan
              Dalam kebanyakan bahasa, apa yang kita sebut “kata” itu tidak selalu muncul dan kelihatan dalam bentuk yang sama. Kadang-kadang suatu tambahan dilekatkan pada kata itu. Contohnya: “berlari=lari, melihat=lihat”.
              Apabila kita mempelajari lebih banyak lagi struktur ketatabahasaan suatu bahasa, maka hendaknya kita menyimak secara selektif pada setiap tipe ketatabahasaan, seperti jenis kelamin, waktu,modus, bentuk, susunan kata, frase, klausa.
              Salah satu keuntungan utama menyimak secara selektif pada struktur-struktur ketatabahasaaan adalah bahwa struktur-struktur yang diserap oleh proses ini cenderung membuat “kebiasaan-kebiasaan dalam otak kita”.

4.     Tujuan Menyimak
Ada empat fungsi menyimak, antara lain:
v  Memperoleh informasi yang berkaitan dengan profesi
v  Membuat hubungan antar pribadi lebih efektif
v  Mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan yang lebih masuk akal
v  Agar dapat memberikan responsi yang tepat
              Tujuan orang menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain:
v   Menyimak untuk belajar
v  Menyimak untuk menikmati
v  Menyimak untuk mengevaluasi
v  Menyimak untuk mengapresiasi
v  Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide
v  Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi
v  Menyimak untuk memecahkan masalah
v  Menyimak untuk meyakinkan
              Ada lima hakikat menyimak, yakni mencakup:
v  Sebagai sarana atau alat
v  Sebagai keterampilan berkomunikasi
v  Sebagai seni
v  Sebagai proses
v  Sebagai responsi
v  Sebagai pengalaman kreatif

5.     Proses Menyimak
              Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Proses menyimak mencakup tahap-tahap sebagai berikut:
a)   Tahap mendengar (hearing); dalam tahap ini kita mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujarannya.
b)   Tahap memahami (understanding); setelah mendengar maka ada keinginan untuk mengerti isi ujaran sang pembicara.
c)    Tahap menafsirkan (interpreting); penyimak yang baik belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan butir-butir pendapat yang terdapat dalam ujaran sang pembicara.
d)   Tahap mrenilai (evaluating); pada tahap ini sang penyimak mulai menilai ujaran sang pembicara, dimana kelebihan dan kekurangannya.
e)   Tahap menanggapi (responding); merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak, sang penyimak menyambut, mencamkan, menyerap, serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang pembicara.

6.     Kemampuan Menyimak Siswa Sekolah Dasar
              Tujuan utama pengajaran bahasa indonesia adalah agar para siswa terampil berbahasa, dalam pengertian terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis.
             
              Taman kanak-kanak
a)   Menyimak pada teman sebaya.
b)   Mengembangkan waktu perhatian yang amat opanjang terhadap cerita dan dongeng.
c)    Dapat mengingat petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan sederhana.

              Kelas satu (5 1/2 – 7 tahun)
a)   Menyimak untuk menjelaskan, menjernihkan pikiran dan untuk mendapat jawaban atas pertanyaan.
b)   Dapat mengulangi secara tepat apa-apa yang telah didengarkan.
c)    Menyimak bunyi-bunyi tertentu pada kata-kata lingkungan.
             
              Kelas dua (6 1/2 – 8 tahun)
a)   Menyimak dengan kemampuan memilih yang meningkat.
b)   Membuat saran-saran, usul-usul, dan mengemukakan pertanyaan untuk mengecek pengertiannya.
c)    Sadar akan situasi, bila sebaiknya menyimak atau sebaliknya.
             
              Kelas tiga dan empat (7 1/2 – 10 tahun)
a)   Sungguh-sungguh sadar akan nilai menyimak sebagai sumber informasi dan kesenangan.
b)   Menyimak pada laporan orang lain, dengan maksud tertentu serta dapat menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan itu.
c)    Memperlihatkan keangkuhan dengan kata-kata atau ekspresi yang tidak mereka pahami maknanya.

              Kelas lima dan enam (91/2 – 11 tahun)
a)   Menyimak secara kritis terhadap kekeliruan, kesalahan, propaganda, dan petunjuk yang keliru.
b)   Menyimak pada aneka ragam cerita puisi, rima kata-kata, dan memperoleh kesenangan dalam menemui dalam tipe-tipe baru.
             
             
7.     Hal-Hal yang Perlu Disimak
              Khusus mengenai bahasa, terutama bahasa asing para pelajar haruslah menyimak serta mengenal butir-butir berikut:
a)   Bunyi-bunyi fonemis (distingtif).
b)   Urutan-urutan bunyi.
c)    Kata-kata tugas.
d)   Infleksi.
e)   Perubahan bunyi dalam derifasi.
f)     Pengelompokan struktural.
g)   Petunjuk urutan kata.
h)   Makna kata-kata.
i)     Kata-kata salam, sapaan, dan lain-lain.
j)     Makna budayawi (cultural meaning).

             
             

BAB III
PENUTUP

              Hakekat dari ilmu menyimak adalah suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan merealisasi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan.
              Jadi menyimak sangatlah penting bagi para pelajar terutama siswa SD, menyimak bertujuan untuk menangkap, memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Keterampilan menyimak sangatlah penting, baik di luar maupun di sekolah, namun demikian di Indonesia kelihatanya belum mendapat tempat yang menggembirakan. Hal ini terbukti belum dimasukannya menyimak secara eksplisit pada GBPP bidang studi.
              Kegiatan menyimak ternyata besar sekali peranannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga, di masyarakat di pabrik, di kantor, di perusahaan, di sekolah dan sebagainya.
              Kita tahu bahwa kegiatan menyimak sangat banyak dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah, namun kenyataannya masih jarang sekali orang-orang yang berminat mengadakan penelitian di bidang menyimak.














DAFTAR PUSTAKA
              Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan . Bandung: Anghkasa